29 Apr 2012
Asuhan Keperawatan Pioderma
I. Pengertian
- Pioderma adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus B Hemoliticus, atau oleh kedua-duanya.
- Pioderma adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus, Streptococcus, atau oleh kedua-duanya.
- Pioderma adalah terminologi umum untuk penyakit-penyakit infeksi kulit yang disebabkan oleh kuman (bakteri), terutama Streptococcus beta hemolyticus atau Staphylococcus aureus..
II. Anatomi fisiologi
Kulit merupakan organ tubuh paling
besar yang melapisi seluruh bagian tubuh, membungkus daging dan
organ-organ yang ada didalamnya. Luas kulit pada manusia rata-rata + 2 meter
persegi dengan berat 10 kg jika ditimbang dengan lemaknya atau 4 kg jika tanpa
lemak atau beratnya sekitar 16 % dari berat badan seseorang.
Kulit merupakan suatu kelenjar
holokrin yang cukup besar dan seperti jaringan tubuh lainnya, kulit juga
bernafas (respirasi), menyerap oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Kulit
menyerap oksigen yang diambil lebih banyak dari aliran darah,
begitu pula dalam pengeluaran karbondioksida yang lebih banyak
dikeluarkan melalui aliran darah. Kecepatan penyerapan
oksigen ke dalam kulit dan pengeluaran karbondioksida dari kulit tergantung
pada banyak faktor di dalam maupun di luar kulit, seperti temperatur udara atau
suhu, komposisi gas di sekitar kulit, kelembaban udara, kecepatan aliran darah
ke kulit, tekanan gas didalam darah kulit, penyakit-penyakit kulit,
usia, keadaan vitamin dan hormone di kulit, perubahan dalam metabolism
sel kulit dan pemakaian bahan kimia pada kulit.
Sifat-sifat anatomis dan fisiologis
kulit di berbagai daerah tubuh sangat berbeda. Sifat-sifat anatomis yang khas,
berhubungan erat dengan tuntutan-tuntutan faali yang berbeda di
masing-masing daerah tubuh, seperti halnya kulit di telapak tangan, telapak
kaki, kelopak mata, ketiak dan bagian lainnya merupakan pencerminan
penyesuaiannya kepadafungsinya masing-masing. Kulit di daerah–daerah tersebut
berbeda ketebalannya, keeratan hubungannya dengan lapisan bagian dalam, dan
berbeda pula dalam jenis serta banyaknya andeksa
yang ada di dalam lapisan kulitnya.
Struktur Kulit
Struktur kulit
terdiri dari tiga lapisan yaitu : kulit ari (epidermis), sebagai
lapisan yang paling luar, kulit jangat (dermis, korium atau kutis) dan
jaringan penyambung di bawah kulit (tela subkutanea, hipodermis atau subkutis)

Asuhan Keperawatan Sifilis
A. PENGERTIAN
Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh
Treponema pallidum. Penyakit menular seksual adalah penyakit yang
ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit ini sangat kronik, bersifat sistemik
dan menyerang hampir semua alat tubuh.
B. ETIOLOGI
Penyebab penyakit ini adalah Treponema pallidum yang
termasuk ordo spirochaetales, familia spirochaetaceae, dan genus treponema.
Bentuk spiral, panjang antara 6 – 15 µm, lebar 0,15 µm. Gerakan rotasi dan maju
seperti gerakan membuka botol. Berkembang biak secara pembelahan melintang,
pembelahan terjadi setiap 30 jam pada stadium aktif.
C. EPIDEMIOLOGI
Asal penyakit tidak jelas. Sebelum tahun 1492 belum dikenal
di Eropa. Pada tahun 1494 terjadi epidemi di Napoli. Pada abad ke-18 baru
diketahui bahwa penularan sifilis melelui hubungan seksual. Pada abad ke-15
terjadiwabah di Eropa. Sesudah tahun 1860, morbilitas sifilis menurun cepat.
Selama perang dunia II, kejadian sifilis meningkat dan puncaknya pada tahun
1946, kemudian menurun setelah itu.
Kasus sifilis di Indonesia adalah 0,61%. Penderita yang
terbanyak adalah stadium laten, disusul sifilis stadium I yang jarang, dan yang
langka ialah sifilis stadium II.
D. PATOFISIOLOGI
1. Stadium Dini
Pada sifilis yang didapat, Treponema
pallidum masuk ke dalam kulit melalui mikrolesi atau selaput lendir,
biasanya melalui senggama. Kuman tersebut berkembang biak, jaringan bereaksi
dengan membentuk infiltrat yang terdiri atas sel-sel limfosit dan sel-sel
plasma, terutama di perivaskuler, pembuluh-pembuluh darah kecil berproliferasi
dikelilingi oleh Treponema pallidum dan sel-sel radang. Enarteritis
pembuluh darah kecil menyebabkan perubahan hipertrofi endotelium yang
menimbulkan obliterasi lumen (enarteritis obliterans). Pada pemeriksaan klinis
tampak sebagai S I. Sebelum S I terlihat, kuman telah mencapai kelenjar getah
bening regional secara limfogen dan berkembang biak, terjadi penjalaran
hematogen yang menyebar ke seluruh jaringan tubuh. Multiplikasi diikuti oleh
reaksi jaringan sebagai S II yang terjadi 6-8 minggu setelah S I. S I akan
sembuh perlahan-lahan karena kuman di tempat tersebut berkurang jumlahnya.
Terbentuklah fibroblas-fibroblas dan akhirnya sembuh berupa sikatrik. S II juga
mengalami regresi perlahan-lahan lalu menghilang. Timbul stadium laten. Jika
infeksi T.pallidum gagal diatasi oleh proses imunitas tubuh, kuman akan
berkembang biak lagi dan menimbulkan lesi rekuren. Lesi dapat timbul
berulang-ulang.
2. Stadium Lanjut
Stadium laten berlangsung bertahun-tahun
karena treponema dalam keadaan dorman. Treponema mencapai sistem kardiovaskuler
dan sistem saraf pada waktu dini, tetapi kerusakan perlahan-lahan sehingga
memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menimbulkan gejala klinis. Kira-kira dua
pertiga kasus dengan stadium laten tidak memberi gejala.
F. KLASIFIKASI dan GEJALA
Sifilis dibagi menjadi sifilis kongenital dan sifilis
akuisital (didapat). Sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis dini (sebelum
dua tahun), lanjut (setelah dua tahun), dan stigmata. Sifillis akuisita dapat
dibagi menurut dua cara yaitu:
- Klinis (stadium I/SI, stadium
II/SII, stadium III/SIII) dan
- Epidemiologik, menurut WHO dibagi
menjadi:
1. Stadium dini menular (dalam satu
tahun sejak infeksi), terdiri atas S I, S II, stadium rekuren, dan stadium
laten dini.
2. Stadium lanjut tak menular
(setelah satu tahun sejak infeksi), terdiri atas stadium laten lanjut dan S
III.
GEJALA KLINIS
Sifilis Akuisita
1. Sifilis Dini
a. Sifilis Primer (S I)
b. Sifilis Sekunder (S II)
2. Sifilis Lanjut
G. DIAGNOSA BANDING
1. Stadium I
§ Herpes
simplek
§ Ulkus
piogenik
§ Skabies
§ Balanitis
§ Limfogranuloma
venereum (LGV)
§ Karsinoma
sel skuamosa
§ Penyakit
behcet
§ Ulkus
mole
2. Stadium II
§ Erupsi
obat alergik
§ Morbili
§ Pitiriasis
rosea
§ Psoriasis
§ Dermatitis
seboroika
§ Kandiloma
akuminatum
§ Alopesia
areata
3. Stadium III
§ Sporotrikosis
§ Aktinomikosis
H. PENCEGAHAN
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah seseorang
agar tidak tertular penyakit sifilis. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain:
1. Tidak berganti-ganti pasangan
2. Berhubungan seksual yang aman:
selektif memilih pasangan dan pempratikkan ‘protective sex’.
3. Menghindari penggunaan jarum
suntik yang tidak steril dan transfusi darah yang sudah terinfeksi.
I. PENATALAKSANAAN
Penderita sifilis diberi antibiotik penisilin (paling
efektif). Bagi yang alergi penisillin diberikan tetrasiklin 4×500 mg/hr, atau
eritromisin 4×500 mg/hr, atau doksisiklin 2×100 mg/hr. Lama pengobatan 15 hari
bagi S I & S II dan 30 hari untuk stadium laten. Eritromisin diberikan bagi
ibu hamil, efektifitas meragukan. Doksisiklin memiliki tingkat absorbsi lebih
baik dari tetrasiklin yaitu 90-100%, sedangkan tetrasiklin hanya 60-80%.
Obat lain adalah golongan sefalosporin, misalnya sefaleksin
4×500 mg/hr selama 15 hari, Sefaloridin memberi hasil baik pada sifilis dini,
Azitromisin dapat digunakan untuk S I dan S II.
J. PROGNOSIS
Prognosis sifilis menjadi lebih baik setelah ditemukannya
penisilin. Jika penisilin tidak diobati, maka hampir seperempatnya akan kambuh,
5% akan mendapat S III, 10% mengalami sifilis kardiovaskuler, neurosifilis, dan
23% akan meninggal.
Pada sifilis dini yang diobati, angka penyembuhan mencapai
95%. Kelainan kulit akan sembuh dalam 7-14 hari. Pembesaran kelenjar getah
bening akan menetap berminggu-minggu.
Kegagalan terapi sebanyak 5% pada S I dan S II. Kambuh
klinis umumnya terjadi setahun setelah terapi berupa lesi menular pada mulut,
tenggorokan, dan regio perianal. Selain itu, terdapat kambuh serologik.
Pada sifilis laten lanjut, prognosis baik. Pada sifilis
kardiovaskuler, prognosis sukar ditentukan. Prognosis pada neurosifilis
bergantung pada tempat dan derajat kerusakan.
Sel saraf yang sudah rusak bersifat irreversible. Prognosis
neurosifilis pada sifilis dini baik, angka penyembuhan dapat mencapai 100%.
Neurosifilis asimtomatik pada stadium lanjut juga baik, kurang dari 1%
memerlukan terapi ulang
Prognosis sifilis kongenital dini baik. Pada yang lanjut,
prognosis tergantung pada kerusakan yang sudah ada.
K. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
Kesadaran, status gizi, TB, BB,
suhu, TD, nadi, respirasi
b. Pemeriksaan sistemik
Kepala (mata, hidung, telinga,
gigi&mulut), leher (terdapat perbesaran tyroid atau tidak), tengkuk, dada
(inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi), genitalia, ekstremitas atas dan
bawah.
c.Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan laboratorium (kimia
darah, ureum, kreatinin, GDS, analisa urin, darah rutin)
2. Diagnosa Keperawatan &
Intervensi
a. Nyeri kronis b.d adanya lesi pada
jaringan
Tujuan: nyeri klien hilang dan
kenyamanan terpenuhi
Kriteria:
- Nyeri klien berkurang
- Ekspresi wajah klien tidak
kesakitan
- Keluhan klien berkurang
Intervensi:
- Kaji riwayat nyeri dan respon
terhadap nyeri
- Kaji kebutuhan yang dapat
mengurangi nyeri dan jelaskan tentang teknik mengurangi nyeri dan penyebab
nyeri
- Ciptakan lingkungan yang nyaman
(mengganti alat tenun)
- Kurangi stimulus yang tidak
menyenangkan
- Kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian analgetik
b. Hipertermi b.d proses infeksi
Tujuan: klien akan memiliki suhu
tubuh normal
Kriteria:
- Suhu 36–37 °C
- Klien tidak menggigil
- Klien dapat istirahat dengan
tenang
Intervensi:
- Observasi keadaan umum klien
dengan tanda vital tiap 2 jam sekali
- Berikan antipiretik sesuai anjuran
dokter dan monitor keefektifan 30-60 menit kemudian
- Berikan kompres di dahi dan lengan
- Anjurkan agar klien menggunakan
pakaian yang tipis dan longgar
- Berikan minum yang banyak pada
klien
c. Cemas b.d proses penyakit
Tujuan: cemas berkurang atau hilang
Kriteria:
- Klien merasa rileks
- Vital sign dalam keadaan normal
- Klien dapat menerima dirinya apa
adanya
Intervensi:
- Kaji tingkat ketakutan dengan cara
pendekatan dan bina hubungan saling percaya
- Pertahankan lingkungan yang tenang
dan aman serta menjauhkan benda-benda berbahaya
- Libatkan klien dan keluarga dalam
prosedur pelaksanaan dan perawatan
- Ajarkan penggunaan relaksasi
- Beritahu tentang penyakit klien
dan tindakan yang akan dilakukan secara sederhana.
L. BIBLIOGRAFI
Djuanda,
Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI.
Asuhan Keperawatan Melanoma Maligna
A. PENGERTIAN
Melanoma maligna atau biasa juga disebut sebagai melanoma adalah keganasan yang terjadi pada melanosit, sel penghasil melanin, yang biasanya berlokasi di kulit tetapi juga ditemukan di mata, telinga, traktus GI, leptomeninges, dan oral dan membran mukus genitalia.Karena sebagian besar sel melanoma masih menghasilakn melanin, maka melanoma seringkali berwarna coklat atau hitam.
Melanomaligna adalah lesi berpigmen atau tidak yang tumbuh dengan cepat yang berasal dari jenis sel nevus jenis dermoepiderma.
B. ANATOMI FISIOLOGI
1. Ciri-ciri Kulit
a. Pembungkus yang elastis yang melindungi kulit dari pengaruh lingkungan.
b. Alat tubuh yang terberat : 15 % dari berat badan.
c. Luas : 1,50 – 1,75 m.
d. Tebal rata – rata : 1,22mm.
e. Daerah yang paling tebal : 66 mm, pada telapak tangan dan t. kaki dan paling tipis : 0,5 mm.pada daerah penis.
2. Anatomi Fisiologi
Bagian dan Lapisan Kulit :
1. Epidermis
Terbagi atas 4 lapisan:
a. Lapisan basal / stratum germinativum
· terdiri dari sel – sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis.
· Tersusun sebagai tiang pagar atau palisade.
· Lapisan terbawah dari epidermis.
· Terdapat melanosit yaitu sel dendritik yang yang membentuk melanin( melindungi kulit dari sinar matahari.
b. Lapisan Malpighi/ stratum spinosum.
· Lapisan epidermis yang paling tebal.
· Terdiri dari sel polygonal
· Sel – sel mempunyai protoplasma yang menonjol yang terlihat seperti duri.
c. Lapisan Granular / s. granulosum.
· Terdiri dari butir – butir granul keratohialinyang basofilik.
d. Lapisan tanduk / korneum.
· Terdiri dari 20 – 25 lapis sel tanduk tanpa inti.
Setiap kulit yang mati banyak mengandung keratin yaitu protein fibrous insoluble yang membentuk barier terluar kulit yang berfungsi:
1. Mengusir mikroorganisme patogen.
2. Mencegah kehilangan cairan yang berlebihan dari tubuh.
3. Unsur utam yang mengerskan rambut dan kuku.
Setiap kulit yang mati akan terganti tiap 3- 4 minggu. Dalam epidermis terdapat 2 sel yaitu :
a. Sel merkel
Fungsinya belum dipahami dengan jelastapi diyakini berperan dalam pembentukan kalus dan klavus pada tangan dan kaki.
b. Sel langerhans
Berperan dalam respon – respon antigen kutaneus.
Epidermis akan bertambah tebal jika bagian tersebut sering digunakan.
Persambungan antara epidermis dan dermis di sebut rete ridge yang berfunfgsi sebagai tempat pertukaran nutrisi yang essensial. Dan terdapat kerutan yang disebut fingers prints.
2. Dermis
a. Merupakan lapisan dibawah epidermis.
b. Terdiri dari jaringan ikat yang terdiri dari 2 lapisan: pars papilaris( terdiri dari sel fibroblast yang memproduksi kolagen dan retikularis yang terdapat banyak darah dan akar rambut, kelenjar keringat dan k. sebaseus.
3. Subkutis
a. Lapisan terdalam yang banyak mengandung sel liposit yang menghasilkan banyak lemak.
b. Merupakn jaringan adipose sebagai bantalan antara kulit dan setruktur internal seperti otot dan tulang.
c. Sebagai mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas.
d. Sebagai bantalan terhadap trauma.
e. Tempat penumpukan energi.
4. Rambut
Terdapat di seluruh kulit kecuali telapak tangan kaki dan bagian dorsal dari falang distal jari tangan, kaki, penis, labia minora dan bibir.
Terdapat 2 jenis rambut :
a. Rambut terminal ( dapat panjang dan pendek.)
b. Rambut velus( pendek, halus dan lembut)
Fungsi rambut
1. Melindungi kulit dari pengaruh buruk:Alis mata melindungi mata dari keringat agar tidak mengalir ke mata, bulu hidung (vibrissae)
2. Penyarig udara
3. Pengatur suhu
4. Pendorong penguapan kerngat dan
5. Indera peraba yang sensitive.
5. Kelenjar pada Kulit
a. Kelenjar Sebasea
berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan batang rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus lentur dan lunak.
b. Kelenjar keringat
diklasifikasikan menjadi 2 kategori:
· Kelenjar Ekrin terdapat disemua kulit.
Melepaskan keringat sebgai reaksi penngkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh.
Kecepatan sekresi keringat dikendalkan oleh saraf simpatik.pengekuaran keringat oada tangan, kaki, aksila, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap setress, nyeri dll.
· Kelenjar Apokrin.
Terdapat di aksil, anus, skrotum, labia mayora, dan berm,uara pada folkel rambut.
Kelenjar ininaktif pada masa pubertas,pada wanit a akan membesar dan berkurang pada sklus haid.
K.Apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu yang diuraikan oleh bajkteri menghasilkan bau khas pada aksila.
Pada telinga bagian luar terdapat kelenjar apokrin khusus yang disebut K. seruminosa yang menghasilkan serumen(wax)
6. Fungsi Kulit Secara Umum
a. Sebagai Proteksi
· Masuknya benda- benda dari luar(benda asing ,invasi bacteri.)
· Melindungi dari trauma yang terus menerus.
· Mencegah keluarnya cairan yang berlebihan dari tubuh.
· Menyerap berbagai senyawa lipid vit. Adan D yang larut lemak.
· Memproduksi melanin mencegah kerusakan kulit dari sinar UV.
2. Pengontrol / pengatur Suhu
· Vasokonstriksi pada suhu dingn dan dilatasi pada kondisi panas peredaran darah meningkat terjadi penguapan keringat.
3 proses hilangnya panas dari tubuh:
o Radiasi: pemindahan panas ke benda lain yang suhunya lebih rendah.
o Konduksi : pemindahan panas dari ubuh ke benda lain yang lebih dingin yang bersentuhan dengan tubuh.
o Evaporasi : membentuk hilangnya panas lewat konduksi
o Kecepatan hilangnya panas dipengaruhi oleh suhu permukaan kulit yang ditentukan oleh peredaran darah kekulit.(total aliran darah N: 450 ml / menit)
3. Sensibilitas
· mengindera suhu, rasa nyeri, sentuhan dan rabaaan.
4. Keseimbangan Air
· Sratum korneum dapat menyerap air sehingga mencegah kehilangan air serta elektrolit yang berlebihan dari bagian internal tubuh dan mempertahankan kelembaban dalam jaringan subcutan.
· Air mengalami evaporasi (respirasi tidak kasat mata)+ 600 ml / hari untuk dewasa.
5. Produksi Vitamin
Kulit yang terpejan sinar Uvakan mengubah substansi untuk mensintesis vitamin D.
C. ETIOLOGI
Penyebabnya belum di ketahui secara pasti namun peran sinar ultraviolet matahari sangat berperan dan diduga menjadi penyebab utama. Melanoma di temukan hampir pada semua usia dan sring di temukan pada daerah tropik.
Faktor Resiko
Faktor resiko melanoma maligna diantaranya yaitu:
1. Tahi lalat (Nevus)
2. Faktor Keluarga
3. Fenotip
4. Supresi Sistem Imun
5. Pajanan Terhadap Radiasi Sinar UV yang Berlebihan
6. Usia
7. Xeroderma Pigmentosum
8. Riwayat Terkena Melanoma
9. Corak kulit kuning langsat, mata biru, rambut pirang / merah
10. Bekerja diluar ruangan
11. Lansia dengan kulit rusak karena matahari
12. Riwayat tindakan sinar-x terjadi kordis kulit
13. Pemajanan pada agens kimia tertentu (arsenik, nitrat, tar dan ter, minyak dan parafin)
14. Jaringan parut luka bakar, kerusakan kulit pada area osteomielitis kronis, lubang fistula
15. Terapi imunosupresi jangka panjang
16. Kerentanan genetik
17. Infeksi terhadap patogen.
D. PATOFISIOLOGI

Langganan:
Postingan (Atom)